Selasa, 24 September 2013

the second, my trip. Bromo I COMING

Bromo. Siapa sih yang tak kenal Bromo? Bromo bagian dari gunung kebanggaan Jatim. Betapa tidaknya masyarakat Jatim harus bangga dengan Gunung di Probolinggo-Pasuruan ini. Menurut bacaan yang pernah saya baca, gunung bromo masuk katagori 3 gunung terbaik yang mudah diakses dan tanpa pendakian berhari-hari level DUNIA, untuk menemukan gunung eksotis ini.So, wajib untuk ke bromo bagi warga propinsi jatim. pesona Bromo AWESOME !                                   Keluarga saya termasuk tipe keluarga pejalan. Kami suka hal baru dan berhubungan dengan alam. Sebelumnya, kalo tidak lupa sekitar 7 tahun lalu saya pernah mengunjungi pesona bromo. Sayang, masa itu, kamera belum secanggih sekarang. Memories album kelurga di bromo masih pake kamera roll yang harus dicuci di studio. bener-bener jaganak (jaman g enak).so, tepat bulan september tanggal 13 malam kita mengulang trip ke sana.                                                              Trip kali ini banyak perubahan dengan trip 7 tahun lalu. Mulai yang dulu ga pake ngejeep, sekarang ia. woooow, butuh budged lagi.just 700.000 IDR trus, sekarang banyak visitornya. apalagi muda-mudi setelah liad film 5 cm. bawaannya pengen banget liad gunung. 
Tujuan pertama ke bromo, jelas lihat matahari terbit, karena keeksotisan matahari terbit ada di gunung. kalo mau lihat eksotisan matahari terbenam lihatlh di pantai. enjoy your trip aja.
Jangan lupa anywhere u trip, u mush prepare. Persiapkan pakaian dingin dari rumah. Karena puncak musim dingin di Bromo bisa mencapai 5derajat bahkan minus. Jaket tebal/mantel, topi gunung, sleyer, masker etc. Sebenarnya disana banyak pedagang yang jual. But, harga yang dikenakan 2 kali lipat. jadi lebih baik persiapkan dari rumah.Selain melihat screnery eksotis matahari terbit, bromo juga ada padang pasir, bukit teletubis, kawah, pasir berbisik dsb. Semuanya berada pada kawasan yang sama, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.


PADANG GURUN PASIR

Kamis, 12 September 2013

tulisan JP

Alhamdulillah, ini tulisan ketiga saya yang masuk JawaPos. 10 juni 2013. salam pena

Minggu, 04 Agustus 2013

Kunci itu bernama "bersyukur"

Sekedar share cerita di buku yang lupa judulnya apa, yang jelas pas baca dalam keadaan  iseng baca. Sederhana kisahnya, tapi Insya Allah menabur ribuan hikmah.

Ada si kaya dan si miskin menemui Baginda Rasulluallah.
Rasulluallah ditanya oleh si Miskin,  'bagaimana cara agar hidup bahagia ya Rasul? Jawab Rasulluallah, "bersyurlah niscaya kau akan diberi tambahan nikmat berlipat dan masuk surga bersama orang-orang shaleh". Seru si miskin dengan nada menantang,"bagaimana aku bisa bersyukur Ya Rasul, bila hidupku serba kekurangan, makan untuk esok ini saja aku belum tentu bisa". Maka sampai akhir hidupnya Allah tak akan memberi nikmat karena kurangnya bersyukur, maka hidupnya Allah  tetap menggariskan kemiskinan dan kemelaratan. Manusia memang cenderung untuk melupakan nikmat sebutir debu.
Beberapa waktu kemuadian, datang si kaya menemui Baginda Rasul saw dan bertanya sama seperti si miskin,"bagaimana hidup bahagia ya Rasul dengan keadaan harta ku yang berlimpah?" Rasul pun menjawab dengan jawaban yang sama seperti si miskin,"bersyukurlah dengan apa yang kau punya, Allah menjamin surganya." Si kaya menjawab dengan nada optimis, "Sudah ya Rasul, aku mensyukuri nikmat yang diberikan dengan bersedekah dan aku menggunakan amanah rezeki ini dengan sebaik-baiknya. Tapi Allah terus mengaliri rezeqi ini Ya Rasul, bagaimana dengan umat yang lain?" Rasulullah hanya menjawab dengan jawaban yang sama"bersyukurlah dan bersyukurlah". Allah tetap mengaliri aliran kehidupannya dengan rezeqi yang terus bercucuran sepanjang akhir perjalannya. Kebahagian akibat dari bersyukur yang tak pernah lalai.
Intinya :
Kunci hidup adalah bersyukur, bila sudah menjalankan ini maka perbuatan akan sesuai dengan garis syari'ah. Allah maha melihat segala apa yang di lakukan hambanya. Allah membalas semua perbuatan hambanya dengan segala nikmat dan anugrah-Nya. Banyak kisah disekitar kita, orang kaya hidupnya tambah kaya itu disebabkan karena mampu mengemban amanah Tuhan berupa rizqi yang berlimpah digunakan dengan semestinya dan diimbangi dengan bersyukur. Berbeda dengan si miskin semakin lama semakin miskin, mereka lupa mensyukuri setiap nikmat sebutir debu, bagaimana bila diemban amanah rezeqi berlimpah? pasti sudah semakin khilaf. 
Bersykurlah pada yang kuasa, cinta di dunia selamanya(potongan laskar pelangi-song)

Kehilangan selembar, menumbuhkan seribu kedewasaan.

Assalamualaikum, blogger
long time no see, disibukkan dengan akhir semester kuliah. Preapare ujian akhir semester 4 dan kehilangan. Tahu ga si? musibah memang ga bisa diprediksi. Kehilangan yang bikin pusing kepayang. Birokrasi negeri ini memang rumit. hmmm maksudnya apa sih! bawa-bawa birokrasi segala.
Yaaah, awalnya ikutan semester pendek. Tujuan ikud ini agar mempercepat masa studi di kampus. Niat baik bukan, selain mengurangi budged kuliah juga prioritas buat mempercepat pendaftaran calon mahasiswa magister. Ciiiee Amien ya rabb. Biarlah orang bilang mimpi gua tinggi. Nothing Impossible itu miissi gua.Hidup cuma sekali harus berarti donk. 
Lanjut ke masalah topik yaitu "kehilangan". Setelah ada pendaftaran SP, langsung gua daftar di bank Mnadiri cabang UA(dulu unair) dengan antree yang cukup lama. Setelah pembayaran di loket mobil Mandiri pastinya diberi struk pembayaran setor kan? Bukti ini langsung gua taruh di dompet. Long time, ada atttention dari kanca-kanca kuliah, kalo pengambilan KRS SP bakal dibuka beberapa hari ini. Yang bikin shock, syarat pengambilannya, berbeda seperti pengambilan KRS Semester Panjang, syaratnya harus ada bukti pembayaran dan KTM.  Langsung jantung mulai mau copot, perut mules inget peristiwa ini 
(Kemarin malamnya ada ponaaan nginep di rumah. So, kamar berantakan sudah jadi langganan. gua eman ga bisa liad kamar seperti kapal pecah. jadi otomatis tangan gerak buat bersihin kamar. Pas bersihin meja, liad dompet kok isinya tebel banget. eh ternyata, pas dibuka isinya bukan duitnya yang tebel. Tapi bekas-bekas struk belanja bulanan di mini market, makan pas hangout sama temen. hehheh....Langsung deh, abis bersikan kamar berlanjut bersihkan isinya dompet yang ga penting termasuk struk pembayaran setor SP di Mandiri. Alamaaat)
Setelah dapat kabar burung ada pembagian KRS itu, langsung buru-buru pulang. Ngecek sampah di kamar. Eh, pas pulang ternyata, ponaan gua sudah pulang, alamat pasti kamar sudah bersih dan sampah di kamar sudah dibuang di counter sampah depan rumah. huuuu, sedihnya Masya Allah. Kertas selembar itu berharga sekali ya, bahkan kalo ga bisa ambil, pasti ga bisa ujian. Kertas itu menentukan masa depan gua.Kehilangan bentuk masalah baru yang ada di depan mata di bulan ini. Caranya, ya diatasi semua. Jangan panik
Share cara mengurus kehilangan bukti pembayaran kuliah buat ambil KRS di FEB UA( Unair)

1)Pertama, datanglah ke bank tempat anda membayar. Mintalah bukti pembayaran, karena bank punya data base semua transaksi. Bila membayar di bank kampus biasanya ga bisa diberi bukti pembayaran. Tapi dihimbau ke rektorat bagian keuangan.
2)Rektorat akan memberi tata cara bagaimana prosedur dan berkas yang perlu dipersiapkan.
3)Kunjungi bagian kemahasiswaan fakultas, untuk mengambil surat kehilangan dari kampus rujukan ke kepolisian.
4)Kunjungi polres setempat minta surat kehilangan. Disini diminta berbagai data tentang diri anda. Nama, alamat, nomor telphone, nim, tempat kehilangan, jam kehilangan dan sebagainya.
5)Kunjungai kantor manajemen UA, lantai 2 bagian keuangan di kampus c Mulyorejo. disana antree ditempat tunggu yang tersedia, setelah dipangggil kemuadian menyerahkan surat kehilangan dari kepolisian dan pihak sana akan memberi printout keuangan, apakah sudah membayar atau tidak sebagai rujukan saat pengambilan KRS SP. Dilengkapi tanda tangan dan stempel rektorat.

Finally, kertas itu ada ditangan gua. Tandanya aku sudah melalui sungai yang deras dan sampai tujuan ku buat ambil KRS SP. Bebas rintangan dan kendala. Eh, Allah masih memberi rintangan lagi. Keesokan harinya, gua ke akademik fakultas. Eh, mb pengambilan KRS SP susulan belum ada. Tunggu info selanjutnya. Masya Allah, tunggu kapan lagi ya? Tiap hari ke akademik, jawabannya masih seperti itu. Berhari-hari saya nanya jawabannya, masih sama. Karena sudah bosan dengan itu, beberapa hari saya ga ke akademik, karena saya rasa masih lama. Eh, pas hari Rabo ngintip akademik kok rame banget, ternyata ada pembagian KRS SP gelombang 2. Lagi-lagi ga bawa print out dari rektorat. Begok sekali saya, kembali ke rumah waktu itu juga, padahal jam itu ada kuliah perkotaan. Memang gila, rasanya kebodohan ini. 
Hikmat setiap kejadian itu selalu ada. Panik buka solusi terbaik. Jalanlah selagi tangan dan kaki ini berfungsi. Inilah proses pendewasaan diri. Andai aja gua lebih rajin simpen barang, pasti ga bakal ada cerita ini. Andai aja gua tiap hari ke akademik sampai hari H pengambilan KRS SP, pasti ga bolak balik pulang kedua kalinya dan ga bakal tinggalin kuliah. Andai aja, pas bersih-bersih dompet ga buang semua isi struk dompet, pasti ga bakal terjadi. Tapi cerita tuhan itu indah. Inilah kisah ku disemester ini. Harapannya musibah kehilangan KRS SP ini berbuah manis di KHS SP. Inilah kisahku. :)



Senin, 15 Juli 2013

JUST WITH PASPORT we can be the best, we can open our eyes -untaian Prof. Rhenald Kasali


Pasport - 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport.  Setiap mahasiswa  harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian,  mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini?  Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu.   Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu  tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan,  dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri.  dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport.  Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

Kamis, 11 Juli 2013

REVIEW 2012-2013

6 febuari 2012
pertama kali, gagasan dimuat di koran Nasional JAWAPOS- judul David beckam dilarang menginjak rumput. Duh, senengnya masya Allah.
19 Mei 2012
kado terindah dari aba n mama, Umroh. Sebelumnya g kepikiran mau ke sana. tapi ini semua sudah takdir Allah. g bisa di pungkiri. sudah dipanggil. itu semua rahasia Allah, apapun cara yang dilakukan Nya.
24 Desember 2012
trip bogor-depok-jkt
keturutan juga ke kebun raya bogor n cibodas. merasakan padang rumput ijo dengan kabut berasa beda.
visit museum, monumen, nature dan masjid. ex monas, tragedi lubangbuaya, monumen pancasila, taman matahari, masjid khadafy dan taawun puncak.
l 8 april 2013
Kedua kalinya, opini saya masuk JP, dengan judul privasi memandikan sikecil. double seneng.
26 April 2013
Trip ke bumi lambung mangkurat.Kalimantan Selatan.
menjelajahii aloh-aloh, kapuas, barito, pasar terapung,martapura.
10 juni 2013
ketiga kalinya masuk JP di halaman opini, dengan judul samakan pemotor dan pesepeda.
06 Juli 2013
trip jogja candi,museum samudraraksa n jamu jago,pantai gunung kidul yang mayoritas bertebng kapur dan gua pindul.
13/14 September 2013
Second, my trip @Bromo n my first my trip MADAKARIPURA
22-23 Desember 2013
Trip Semarang- lawangsewu. mas agung semarang dan pantai maroon
24-25 Desember 2013
DIENG Banjar negara-wonosobo